Minggu, 27 Mei 2012

Pictures I liked ^_^

Ini gambar yang diambil abang saya yang pertama(abang Ally) di pantai Boom, Tuban. Sedikit-sedikit kaya tulisan Allah kan???
Pemandangan cantik di pantai Boom, Tuban...












Sabtu, 12 Mei 2012

Insiden Sepatu Baru


Oleh: Siti Nur Banin

Waktu itu abangku yang pertama masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (setara SD), sekitar tahun 1989. Sepatu sudah menjadi hal yang sedikit wajar bagi anak sekolahan pada tahun itu. Teman-teman abangku pun sudah bersepatu jika bersekolah. Tapi, sepatu tetaplah sesuatu yang hampir-hampir tak terjamah di kepala orangtuaku. Jangankan perkara sepele tentang sepatu, perkara sakral macam pendidikan saja menjadi begitu tidak dipikirkan oleh orangtuaku yang memiliki hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Perut kami, anak-anaknya. Maka dari itu, sangat tak mengherankan jika ibu akan lebih marah jika abang tak mengantarkan dagangannya ke pasar ketimbang abang tak masuk sekolah. Untungnya selalu ada pengecualian untuk segala hal, perut memang penting, tapi melihat abangku yang polos dan lugunya kelewat meminta dibelikan sepatu, ibu tak sampai hati menolak. Abangku adalah anak yang dilahirkan dengan takdir seolah ia tak boleh punya keinginan untuk minta ini-itu, dan ia sudah teramat biasa untuk tidak boleh ingin. Maka, jika abang sendiri sampai mengungkapkan keinginannya untuk memiliki sepatu, tentunya itu adalah sejenis keinginan yang tak tertahankan.
            Entah dapat uang dari mana ibu menyanggupi keinginan abang pertamaku. Betapa abangku itu tak bisa berhenti tersenyum. Begitu polos. Begitu lugu. Begitu dan selalu seperti itu, dirasanya seolah dialah anak paling berbahagia sedunia, segalaksi, sejagat raya! Seolah, perkara ia hendak dibelikan sepatu itu tak lain tak bukan adalah salah satu hal ajaib yang pernah terjadi dalam hidupnya.
            Hari yang ditunggu tiba juga. Abang berangkat ke sekolah mengenakan sepatu. Sepatu baru lagi. Lagi-lagi abangku itu tak bisa berhenti tersenyum. Lagi-lagi abangku itu merasa jadi anak paling bahagia sepanjang masa di seluruh dunia. Maka, benar-benar mengherankan karena saat pulang abangku itu tak lagi mengenakan sepatu. Sepatunya itu dipegangi di tangan sepanjang dari sekolah. Ibu bertanya mengapa, dijawabnya bahwa ia mungkin teramat biasa tak bersepatu, maka sepertinya lebih enak tak pakai sepatu saja. Ditanya lagi oleh ibu, kenapa tak dipakai sepatunya, dijawab pula, tidak papa. Begitu polos. Begitu lugu. Begitu dan selalu seperti itu, belum pernah dilihat oleh ibu abangku itu menunjukkan ekspresi marah, kecewa atau sedih.
            Karena penasaran ibu mencari tahu lewat teman-teman abangku. Tak mungkin sekali jika sesuatu yang diidam-idamkan sejak lama oleh abang mendadak tak diinginkannya lagi. Maka, betapa hati ibu teramat ngilu mendengar jawaban teman-teman abang yang hampir-hampir tak terdengar akibat gelak tawa yang membuncah. Teman-teman abangku bercerita sambil tak bisa berhenti memegangi perut menahan tawa, kata mereka, abangku sekolah pakai sepatu perempuan. Abangku lucu sekali pakai sepatu perempuan, kata mereka. Sudah sepatu perempuan, kebesaran pula, begitu teman-teman abang bercerita, masih sambil memegangi perut. Jika menceritakannya saja mereka sudah tertawa terbahak-bahak seperti itu, ibu tak sampai hati membayangkan anaknya yang begitu polos, yang begitu menggemaskan tersenyum-senyum sendiri memakai sepatu baru, lantas ditertawai teman-temannya di sekolah.

Jumat, 20 April 2012

Gambar Kenangan :D

I like these pictures, and the memory in it^^

LKMMTD, Hotel Tanjung Plaza, Tretes-Pasuruan
  Ini saya katakan berkesan karena ini adalah layanan ke-gratis-an pertama bagi Mahasiswa penyandang 'BIDIK MISI'. Para dosen lebih senang menyebut kegiatan ini dengan "3 Hari Perbaikan Gizi Mahasiswa BIDIK MISI UNESA" :)

 Joglo FBS UNESA
ini sepenuhnya adalah ulah Abu Daren. Kalaupun nantinya teman sekamar saya naksir sama saya gara2 saya jadi ganteng begini, sepenuhnya dosa adalah milik Abu Daren....












Minggu, 08 April 2012

The Forgotten


cerpen ini butuh revisi, tapi saya bingung mau direvisi bagaimana......
Oleh: Siti Nur Banin
Hanya orang tidur yang bermimpi. Kupastikan aku tak sedang bermimpi sekarang. Gelap pekat ini nyata adanya, celah transparan yang bergoyang-goyang di sana itu, yang sedari tadi memunculkan suara manusia itu, tak sekedar khayalanku ternyata. Aku terbang! Melayang-layang dalam gelap yang pekat. Semula kukira ini adalah dasar air dan celah itu pastilah permukaannya, namun segera kutololkan diriku mengingat aku ini manusia normal yang tak punya kesaktian hidup di dalam air. Sedikit pun!
Kuraih celah itu, kucengkeram dan kujewer selebar tubuhku. Gagal! Terlalu sempit. Kujewer lagi, gagal lagi. Dan lagi, dan gagal lagi. Sebelum aku menyerah, sepasang jari-jari kisut, pucat, kering, dan berkuku hitam rusak membantuku menjewer celah.
hap… aku berhasil keluar.
            “selamat datang,” si tangan kisut menyapaku dengan tatapan yang teramat teduh. Ia tak sendiri, ada tiga remaja berada agak jauh dari kami. Dua gadis satu pria, dan semuanya ganjil.
            “boleh aku tahu ini di mana?” pertanyaanku kutujukan kepada si gadis bertangan kisut, namun mataku tak bergeser mengamati remaja-remaja ganjil yang juga tengah memandangiku dalam diam.
            “ah, klise!” si pria tersenyum sinis.